• Contact Center
  • 1500 007
  • Chatbot

Cloud Cytoma: Gejala, Mencegah dan Mengobat

Kisah haru dalam drama Korea Queen of Tears memunculkan rasa penasaran para pencinta drakor akan suatu penyakit langka yang menimpa pemeran utamanya: cloud cytoma. Selain langka, penyakit ini diceritakan sangat berbahaya dan bahkan mematikan. Tapi apakah benar dalam kehidupan nyata memang ada penyakit yang diderita Kim Ji Won ini?

Mengenal Cloud Cytoma

Cloud cytoma adalah nama penyakit yang diderita oleh Kim Ji Won dalam drama Korea populer Queen of Tears. Penyakit langka ini membuat Kim Ji Won kesulitan menjalani kehidupan sehari-hari, terutama ketika gejalanya kambuh. Gejala yang utama adalah sakit kepala hebat hingga memerlukan obat untuk meredakannya. Selain itu, ada gejala hilang ingatan sementara, gemetar, sesak napas, kesulitan berkonsentrasi, penglihatan kabur, hingga berhalusinasi?

buat jani dokter primaya

Namun ternyata cloud cytoma hanyalah penyakit fiksi yang dibuat oleh sutradara Queen of Tears sebagai pendukung cerita. Meski begitu, bila melihat detail gejala penyakit itu, bisa jadi sang sutradara mengacu pada penyakit yang disebut glioblastoma multiforme (GBM)

Glioblastoma multiforme merupakan tumor ganas otak derajat IV berdasarkan klasifikasi WHO. Tumor ini merupakan astrositoma (tumor otak yang berasal dari sel astrosit) paling ganas dengan rata-rata kemungkinan hidup kurang 1 tahun. Metode pengobatan dan perkembangan penyakit tergantung pada lokalisasi tumor, derajat keganasan, profil genetik, aktivitas proliferasi, usia pasien dan skor Karnofsky

Pada dasarnya tumor ini merupakan tumor orang dewasa, biasanya terjadi setelah usia 40 tahun dengan insiden puncak antara usia 65 dan 75 tahun. Tingkat Kejadian pada pria dibandingkan dengan wanita berada pada level 1,26: 1. Pada Wanita, resiko kejadian yang lebih tinggi dicatat pada wanita pascamenopause.

Gejala Cloud Cytoma

Gejala yang timbul dapat bervariasi antara satu orang dan orang lain, tergantung lokasi dan seberapa cepat perkembangan tumor. Tanda tumor ini yang paling umum diantaranya:

  • Nyeri kepala, yang berkembang semakin lama semakin berat, terutama pada pagi atau seusai aktivitas fisik
  • Mual dan muntah yang mungkin terjadi karena peningkatan tekanan dalam tempurung kepala akibat perkembangan tumor
  • Gangguan kognitif (memori) seperti sering lupa, sulit berkonsentrasi, dan kebingungan
  • Perubahan perilaku, antara lain suasana hati yang berubah secara mendadak dan reaksi emosional berlebihan
  • Kelemahan atau kelumpuhan pada satu sisi tubuh
  • Kesemutan atau mati rasa pada bagian tubuh tertentu
  • Gangguan penglihatan, seperti pandangan kabur, kehilangan penglihatan sebagian atau seluruhnya, dan penglihatan ganda
  • Kejang-kejang
  • Kesulitan tidur atau tidur berlebihan
  • Gangguan bicara seperti bicara pelo atau bahkan tidak bisa bicara.
Baca Juga:  Simvastatin: Efek Samping, Dosis, dan Aturan Pakainya

 

Penyebab cloud cytoma

Penyebab tumor ini belum sepenuhnya dapat dijelaskan. Penelitian tentang penyebab glioblastoma masih berlangsung. Perubahan genetik dalam sel otak normal diduga sebagai penyebab Selain itu, ada kemungkinan paparan radiasi yang tinggi dalam berkembangnya glioblastoma, terutama radiasi pada kepala.

Paparan bahan kimia beracun juga berpotensi meningkatkan risiko tumor otak. Orang dengan riwayat tumor atau kanker otak dalam keluarga juga lebih berisiko mengalami kondisi ini. Demikian pula bila orang itu memiliki masalah sistem kekebalan tubuh yang lemah atau imunodefisiensi.

Virus, seperti human cytomegalovirus (HCMV), juga diyakini sebagai salah satu agen penyebab untuk perkembangan tumor. Bahan kimia yang dianggap berpotensi berbahaya seperti peptisida, senyawa aromatic polisiklik dan pelarut. Medan elektromagnetik dan logam tertentu juga dianggap terlibat dalam perkembangan tumor. Diyakini bahwa penggunaan ponsel tidak menigkatkan risiko pengembangan tumor, tetapi efek penggunaan ponsel dalam jangka panjang masih belum ditentukan.

 

Cara Dokter Mendiagnosis Cloud Cytoma

Dokter akan terlebih dulu melakukan wawancara dan pemeriksaan fisik, mengumpulkan gejala yang dialami pasien dan melakukan pemeriksaan neurologis. Dalam pemeriksaan ini, dokter akan melakukan serangkaian tes untuk mengecek kemampuan fungsi otak menyeluruh menyangkut fungsi motorik (kekuatan), sensorik, fungsi luhur (seperti memori, pengenalan diri dan lingkungan, atensi) dan fungsi otonom (fungsi organ dalam, berkemih, suhu)

Selain itu, dokter dapat melakukan pemeriksaan penunjang dengan teknik pencitraan seperti magnetic resonance imaging (MRI) atau pemindaian tomografi terkomputasi (CT scan) untuk mengidentifikasi lokasi tumor yang pasti.

Biopsi atau pengambilan sampel jaringan dari tumor juga diperlukan untuk menentukan diagnosa pasti dari tumor untuk membantu menentukan prognosis dan jenis terapi yang tepat, sampel jaringan ini dikirim ke laboratorium patologi anatomi untuk dianalisis lebih lanjut.

 

Cara Mengatasi Cloud Cytoma

Karakteristik tumor ini yang dialami satu pasien dan lainya bisa berbeda, tergantung tingkat keparahannya. Karena itu, metode penanganan penyakit ini pun bervariasi dan bisa dikombinasikan. Di antaranya:

  • Operasi untuk mengangkat sebanyak mungkin tumor otak tanpa merusak jaringan otak yang sehat
  • Radioterapi menggunakan sinar-X untuk menghentikan pertumbuhan tumor
  • Kemoterapi dengan obat-obatan yang diminum atau disuntikkan untuk mematikan sel kanker
  • Terapi tertarget yang mirip dengan kemoterapi, tapi langsung ditujukan ke protein tertentu yang berkontribusi terhadap pertumbuhan tumor
  • Imunoterapi dengan obat-obatan atau vaksin yang mengaktifkan sistem imun tubuh untuk melawan sel kanker
  • Tata laksana kejang
  • Tata laksana nyeri
Baca Juga:  Cetirizine: Dosis, Manfaat, Efek Samping, & Aturan Pakainya

Selain tindakan medis langsung tersebut, pasien bisa memerlukan perawatan pendukung seperti terapi psikologis, terapi wicara, terapi okupasi, atau terapi fisik guna menjaga kualitas hidup.

Komplikasi Cloud Cytoma

Glioblastoma atau cloud cytoma dalam Queen of Tears bisa menimbulkan komplikasi jika tak kunjung mendapat perawatan yang memadai. Komplikasi itu mencakup masalah neurologis yang bisa mengganggu kegiatan sehari-hari hingga kematian. Selain itu, pasien glioblastoma lebih berisiko terkena infeksi, terutama bila sistem imun terpengaruh oleh obat-obatan yang digunakan dalam terapi kanker.

Pencegahan Cloud Cytoma

Karena penyebab pasti glioblastoma belum bisa teridentifikasi, cara pencegahan yang pasti pun belum diketahui. Meski begitu, ada sejumlah langkah yang bisa ditempuh untuk meminimalkan risiko terkena penyakit ini, seperti:

  • Menghindari paparan radiasi dan bahan kimia beracun yang berlebihan
  • Menerapkan pola hidup sehat dan aktif
  • Menjaga diri dari risiko kecelakaan terutama yang bisa menyebabkan cedera kepala berat
  • Menjalani pemeriksaan rutin seiring dengan bertambahnya usia

Kapan Harus ke Dokter?

Bila merasa mengalami gejala seperti cloud cytoma alias glioblastoma, jangan tunda untuk memeriksakan diri ke dokter secepatnya. Hopkins Medicine menyebutkan orang yang didiagnosis mengalami glioblastoma dulu hanya punya kesempatan hidup beberapa bulan atau bahkan beberapa minggu saja. Namun berkat perkembangan medis saat ini pasien bisa mempertahankan kualitas hidup hingga bertahun-tahun selama bisa didiagnosis sejak dini dan menjalani perawatan yang tepat.

 Narasumber:

dr. Fajar Sekti Reliyana, Sp. N

Spesialis Saraf

Primaya Hospital Bhakti Wara

 

Referensi:

Share to :

Buat Janji Dokter

Promo

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.